MEDIA DAKWAH TPQ TAHFIZHULQUR'AN HABIBUSSHOLIHIN BANYU URIP LOR SURABAYA [12/07/2012]

Kisah Menakjubkan Imam Syafi'i dalam Menuntut Ilmu

Hasil gambar untuk foto imam syafiiImam Syafii ketika berguru di kota Mekkah beliau di seru oleh gurunya, "wahai Imam Syafii pergilah engkau ke Madinah untuk berguru lagi, karena sesungguhnya Ilmuku sudah habis, semuanya sudah kuajarkan padamu".
Wah, hebat bener yah, pernah ketemu yang begini gak? Guru kehabisan ilmu untuk diajarkan kepada muridnya, rasanya langka sekali.
Imam Syafii menuruti gurunya itu dan iya berpamitan kepada ibunya. Memang Imam Syafii adalah seorang yang sangat patuh kepada ibunya, jauh kalau dibanding sama kita.
Berkatalah Ibundanya Imam Syafii "Nak, pergilah engkau menuntut ilmu di jalan Allah, kita ketemunya nanti di akhirat"
Zaman dulu tidak sama seperti sekarang. Untuk mencari ilmu bisa memakan waktu sangat panjang, bisa berpuluh-puluh tahun. Banyak yang menua di dalam perjalanan. Maka wajarlah ibundanya Imam Syafii berkata demikian.
Maka Imam Syafii pun berangkat ke Madinah mencari guru untuk belajar. Saat itu usianya masih sangat muda. Kalau ditempat kita usia segitu masih di pakai untuk hura-hura, main gitar, kebut-kebutan dijalan, dst.
Di Madinah beliau berguru kepada Imam Malik. Tak butuh waktu lama bagi Imam Syafii untuk menyerap ilmu dari Imam Malik sehingga semua orang terkagum-kagum dibuatnya, termasuk sang guru yang pada saat itu merupakan ulama tertinggi di Madinah, tampuknya kutup hijaz, Imam Malik. Imam Syafii menjadi murid kesayangan Imam Malik. Selesai belajar di Madinah Imam Syafii masih melanjutkan pencarian ilmu ke Irak. Irak saat itu juga merupakan salah satu kutup ilmu islam selain Madinah, karena disitu ada Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya. Jadi pada masa itu ada 2 kutub ilmu Islam, yaitu kutub Hijaz di Madinah yang mana Imam Malik sebagai mahagurunya dan ada kutub Baghdad dimana Imam Abu Hanifah sebagai mahagurunya.
Berangkatlah Imam Syafii mengembara ke Iraq dan Imam Syafii menimba ilmu disana kepada murid2nya Imam Abu Hanifah atau Imam Hanafi. Meski sudah banyak menyerap ilmu di Irak, Imam Syafii belum ingin pulang, karena belum ada panggilan dari ibundanya.
Di Irak Imam Syafii berkembang menjadi murid yang terkenal sangat pintar dan tercerdas, sehingga dalam waktu singkat ia sudah diminta untuk mengajar. Satu murid, dua murid, tiga murid sampai ribuan murid berbondong-bondong datang untuk berguru padanya. Hingga ia pun menjadi ulama besar yang terkenal keseluruh penjuru Irak hingga Hijaz.

Ketika musim haji datang, Ibunya Imam Syafii selalu menunaikan haji. Suatu ketika di musim haji di Masjidil Haram ada sebuah pengajian besar yang mana pengajiannya di pimpin oleh seorang ulama besar dari Irak. Ulama Besar dari irak ini dalam ceramahnya sebentar-sebentar berkata "Qola Muhammad bin Idris Asy Syafii....Qola Muhammad bin Idris Asy Syafii" (berkata Muhammad bin Idris Asy Syafii).
Ibundanya Imam Syafii yang juga turut mendengar pengajian itu bertanya-tanya, Muhammad bin Idris Asy Syafii yang disebut guru besar itu Muhammad bin Idris Asy Syafii yang mana? karena Muhammad adalah anaknya dan Idris adalah nama suaminya. Maka bertanyalah Ibunya kepada Ulama besar tadi,
"wahai Syaikh maaf saya bertanya, siapakah itu Muhammad bin Idris Asy Syafii?"
Dengan bangganya Kyai besar itu berkata "dia adalah guruku, seorang ulama besar di Irak yang berasal dari kota Mekkah ini"
Mendengar jawaban itu Ibunya terkejut. Setahu dia tak ada nama Muhammad bin Idris Asy Syafii yang berasal dari Mekkah ini selain dari anaknya. Maka ibunya Imam Syafii berkata "Ketahuilah wahai Syaikh, sesungguhnya Muhammad bin Idris Asy Syafii adalah anakku"
Mendengar jawaban itu Kyai besar itu pun terkejut. "Benarkah itu wahai ibu? ibunya Imam Syafii masih ada?"
"Benar wahai syaikh, Muhammad bin Idris Asy Syafii adalah anakku"
Maka dia pun hormat kepada Ibu Imam Syafii tersebut.
Setelah bercerita banyak Syaikh dari irak tadi pun bertanya "Lalu apa pesanmu untuk Imam Syafii wahai ibu?"
"Katakah pada anakku, jika ia ingin pulang ke Mekkah sekarang dia boleh pulang"
Setelah sampai ke Irak maka pesan pun pun disampaikan kepada Imam Syafii.
"Wahai Imam, Ibumu berpesan jika Imam ingin pulang ke Mekkah sekarang Imam boleh pulang"
Maka Imam Syafii pun bergegas ingin pulang. Sudah sangat rindu kepada ibunda tercintanya. Namun disisi lain masyarakat Irak begitu berat melepaskan Sang Imam. Namun dengan berat hati dan perasaan penuh haru mereka pun rela melepaskan Imam Syafii untuk pulang.
Karena mereka semua cinta kepada Imam Syafii dan Imam Syafii merupakan Ulama Besar, maka saat Imam Syafii mau pulang mereka banyak sekali memberikan bekal kepada Imam Syafii, diantaranya banyak yang memberi onta hingga Imam Syafii mendapat ratusan onta yang mana masing-masing onta terdapat isi bekal dan kekayaan di punggungnya. Imam Syafii terkejut melihat begitu banyaknya bekal yang diberikan kepadanya. Hampir semua orang irak memberi bekal.
Imam Syafii pun pulang menuju mekkah, di kawal oleh beberapa orang santrinya berikut ratusan onta. Sesampainya di pinggiran kota Mekkah Imam Syafii menyuruh salah seorang santrinya untuk bertemu ibunya dan mengabarkan bahwa Imam Syafii sudah hampir sampai ke Mekkah.
Santrinya pun mendatangi rumah Ibunda Imam Syafii dan mengetuk pintu. Setelah di buka ibunya bertanya "Kamu siapa?"
"Saya muridnya Imam Syafii" jawab santri itu
"Ada apa?" tanya ibunya
"Imam Syafii sedang dalam perjalanan pulang ke sini, dan sekarang sudah berada di pinggiran kota Mekkah" jawab santri lagi.
"Apa saja yang di bawa Syafii?" tanya ibunya lagi.
Santri Imam Syafii dengan bangganya menjawab "Imam Syafii datang dengan membawa ratusan unta dan harta", berharap Ibunya Imam Syafii menjadi senang mendengarnya.
Bukannya senang, Ibunya Imam Syafii malah marah. "Apa? Syafii membawa ratusan onta?, aku menyuruh berkelana bukan untuk mencari dunia !!!!, katakan pada Syafii bahwa dia tidak boleh pulang kerumah !!!" tegas ibunya sambil menutup pintu dengan marah. Santrinya terkejut.
Subhanallah.
Tapi Ibunya Imam Syafii justru marah mendengar anaknya pulang bawa banyak onta dan harta. Ibunya hanya ingin Imam Syafii mencari ilmu bukan harta, subhanallah, benar-benar seorang ibu yang shalehah.
Maka dengan perasaan yang serba salah santri tadi pun menyampaikan pesan ibunya kepada Imam Syafii. Mendengar itu Imam Syafii gemeteran ketakutan. Imam Syafii pun memerintahkan kepada santrinya untuk mengumpulkan warga miskin kota Mekkah. Lalu semua onta berikut hartanya di berikan kepada warga Mekkah hingga tak tersisa. Yang tersisa hanya kitab saja.
Maka santri tadi pun disuruh kembali menemui ibunya. Sesampainya di rumah ibunya, santri tadi pun menceritakan kepada Ibunya Imam Syafii bahwa semua onta dan hartanya sudah di bagikan kepada warga Mekkah yang tersisa hanya kitab dan ilmunya saja. Maka Imam Syafii pun di bolehkan pulang.
SUBHANALLAH....
Semoga rahmat Allah turun kepada kita semua karena kita menceritakan orang yang sholeh... Aamiin
. عند ذكرالصلحين تنزيل الرحمة

Hikayah Teladan Kiai Hamid Pasuruan

Hasil gambar untuk foto kyai hamidOrang mengenal Kiai Hamid karena beliau dikenal sebagai seorang wali. Dan orang mengatakan wali – biasanya – hanya karena keanehan seseorang. Tidak banyak yang tahu tentang sejatinya beliau. Nah ! Dalam rangka memperingati haulnya pada bulan Mei ini kami turunkan sekelumit tentang beliau.
Seperti halnya orang mengenal Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani sebagai sultanul auliya’, tidak banyak yang tahu bahwa sebetulnya Syekh Abdul Qodir adalah menguasai 12 disiplin ilmu. Beliau mengajar ilmu qiraah, tafsir, hadits, nahwu, sharaf, ushul fiqh, fiqh dll. Beliau sendiri berfatwa menurut madzhab Syafi’I dan Hanbali. Juga Sahabat Umar bin Khattab, orang hanya mengenal sebagai Khalifah kedua dan Panglima perang. Padahal beliau juga wali besar. Beliau pernah mengomando pasukan muslimin yang berada di luar negeri cukup dari mimbar Masjid di Madinah dan pernah menyurati dan mengancam sungai Nil di Mesir yang banyak tingkah minta tumbal manusia, hingga nurut sampai sekarang.
Kiai Abdul Hamid yang punya nama kecil Abdul Mu’thi lahir di Lasem Rambang Jawa Tengah tahun 1333 H bertepatan dengan tahun 1914 M. dari pasangan Kiai Abdullah bin Umar dengan Raihanah binti Kiai Shiddiq. Beliau yang biasa dipanggil Mbah Hamid ini adalah putra keempat dari 12 saudara.

Seperti umumnya anak cerdas, Hamid pada waktu kecil nakalnya luar biasa, sehingga dia yang waktu kecil dipanggil Dul ini panggilannya dipelesetkan menjadi Bedudul. Kenakalannya ini dibawa sampai menginjak usia remaja, dimana dia sering terlibat perkelahian dengan orang China yang pada waktu itu dipihak para penjajah. Pernah suatu saat dia ajengkel melihat lagak orang China yang sombong, kemudian orang China tersebut ditempeleng sampai klenger. Karena dia dicari-cari orang China kemudian oleh ayahnya dipondokkan ke Termas Pacitan. Sewaktu dia belajar di Termas sering bermain ke rumah kakeknya, Kiai Shiddiq di Jember dan kadang-kadang bertandang ke rumah pamannya Kiai Ahmad Qusyairi di Pasuruan. Sehingga, sebelum dia pindah ke Pasuruan, dia sudah tidak asing lagi bagi masyarakat disana.

Setelah di pesantren Termas dipercaya sebagai lurah, Kiai Hamid sudah mulai menampakkan perubahan sikapnya, amaliyahnya mulai instensif dan konon dia suka berkhalwat disebuah gunung dekat pesantren untuk membaca wirid. Semakin lama, dia semakin jarang keluar kamar. Sehari-hari di kamar saja, enath apa yang diamalkannya. Sampai kawan-kawannya menggoda . Pintu kamarnya dikunci dari luar. Tapi, anehnya dia bisa keluar masuk.
Tawadlu’ dan Dermawan.
Kiai Hamid yang kemudian diambil menantu Kiai Qusyairi adalah sosok yang halus pembawaannya. Meski sebagai orang alim dan menjadi menantu kiai, beliau tetap tawadlu’ (rendah hati). Suaranya pelan dan sangat pelan. Ketika apa saja apelan, entah mengajar, membaca kitab, berdzikir, shalat amaupun bercakap-cakap dengan tamu. Kelembutan suaranya sama persis dengan kelembutan hatinya. Beliau mudah sekali menangis. Apabila ada anaknya yang membandel dan akan memarahinya, beliau menangis dulu, akhirnya tidak jadi marah. “Angel dukane, gampang nyepurane”, kata Durrah, menantunya.

Kebersihan hatinya ditebar kepada siapa saja, semua orang merasa dicintai beliau. Bahkan kepada pencuri pun beliau memperlihatkan sayangnya. Beliau melarang santri memukuli pencuri yang tertangkap basah di rumahnya. Sebaliknya pencuri itu dibiarkan pulang dengan aman, bahkan beliau pesan kepada pencuri agar mampir lagi kalau ada waktu.
Sikap tawadlu’ sering beliau sampaikan dengan mengutip ajaran Imam Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam; “Pendamlah wujudmu di dalam bumi khumul (ketidak terkenalan)” . Artinya janganlah menonjolakan diri. Dan ini selalu dibuktikan dalam kehidupannya sehari-hari. Bila ada undangan suatu acara, beliau memilih duduk bersama orang-orang biasa, di belakang. Kalau ke masjid, dimana ada tempat kosong disitu beliau duduk, tidak mau duduk di barisan depan karena tidak mau melangkahi tubuh orang.

Kiai Hamid yang wafat pada tahun 1982 juga dikenal sebagai orang yang dermawan. Biasanya, kebanyakan orang kalau memberi pengemis dengan uang recehan Rp. 100,-. Tidak demikian dengan Kiai Hamid, beliau kalau memberi tidak melihat berapa uang yang dipegangnya, langsung diserahkan. Kalau tangannya kebetulan memegang uang lima ribuan, ya uang itu yang diserahkan kepada pengemis. Tak hanya bentuk uang, tapi juga barang. Dua kali setahun beliau selalu membagi sarung kepada masing-masing anggota keluarga.
Orang Alim.

Biasanya orang yang terkenal dengan kewaliannya hanya dipandang dari kenyentrikannya saja. Tapi tidak demikian dengan Kiai Hamid, beliau dipandang orang bukan hanya dari kenylenehannya, tapi dari segi keilmuannya, beliau juga sangat dikagumi banyak kiai. Karena, memang sejak dari pesantren beliau sudah terkenal menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu kanoragan, ketabiban, fiqih, sampai ilmu Arudl beliau sangat menguasai. Terbukti beliau juga menyusun syi’iran.
Karena kedalaman ilmunya itu, masyarakat meminta beliau menyediakan waktu untuk mengaji. Akhirnya beliau menyediakan waktu Ahad pagi selepas subuh. Adapun kitab yang dibaca kitab-kitab tasawwuf, mulai dari yang kecil seperti kitab Bidayatul Hidayah, Salalimul Fudlala’ dan kemudian dilanjutkan kitab Ihya’.

Didalam mendidik atau mengajar, Kiai Hamid mempunyai falsafah yang beranjak dari keyakinan tentang sunnatullah, hukum alam. Ketika ada seorang guru mengadu bahwa banyak murid-muridnya yang nilainya merah. Beliau lalu memberi nasehat dengan falsafah pohon kelapa. “Bunga Kelapa (manggar) kalau jadi kelapa semua yang tak kuat pohonnya atau buahnya jadi kecil-kecil” katanya menasehati sang guru. “Sudah menjadi sunnatullah,” katanya, bahwa pohon kelapa berbunga (manggar), kena angin rontok, tetapi tetap ada yang berbuah jadi cengkir. Kemudian rontok lagi. Yang tidak rontok jadi degan. Kemudian jadi kelapa. Kadang-kadang sudah jadi kelapa masih dimakan tupai.
Ijazah-ijazah
Seperti kebanyakan para kiai, Kiai Hamid banyak memberi ijazah (wirid) kepada siapa saja. Biasanya ijazah diberikan secaara langsung tapi juga pernah memberi ijazah melalui orang lain. Diantara ijazah beliau adalah:

  1. Membaca Surat Al-Fatihah 100 kali tiap hari. Menurutnya, orang yang membaca ini bakal mendapatkan keajaiban-keajaiban yang terduga. Bacaan ini bisa dicicil setelah sholat Shubuh 30 kali, selepas shalat Dhuhur 25 kali, setelah Ashar 20 kali, setelah Maghrib 15 kali dan setelah Isya’ 10 kali.
  2. Membaca Hasbunallah wa ni’mal wakil sebanyak 450 kali sehari semalam.
  3. Membaca sholawat 1000 kali. Tetapi yang sering diamalkan Kiai Hamid adalah shalawat Nariyah dan Munjiyat.
  4. Membaca kitab Dala’ilul Khairat. Kitab ini berisi kumpulan shalawat.(m. muslih albaroni)

Cerita dari Habib Hasan bin Ja’far Assegaf (Nurul Mustafa) tentang Al Habib Abdullah bin Abdulqadir Bil Faqih bertemu dengan Nabiyullah Khidir

Hasil gambar untuk gambar shodaqohSuatu ketika,semasa habib Hasan di pesantren darul hadist malang, beliau dipanggil oleh gurunya untuk membuat teh 2 gelas,lalu habib Hasan bingung berfikir dalam hati beliau, kan ga ada tamu kok minta bikin 2 gelas teh…
krena printah guru bsar,beliau turuti….
Singkat cerita jadilah teh itu dibawa kehadapan guru beliau Habib Abdullah bin Abdulqadir Bil Faqih. lalu habib Hasan berfikir,klo teh itu untuk beliau berdua. Ternyata Habib Hasan disuruh keluar,ya Hasan ente boleh keluar (perkataan Habib Abdullah Bil Faqih).

lalu Habib Hasan keluar,dari kejauhan Habib menunggu tamu siapa yg akan datang. Dan lalu tiba-tiba datang tukang siomay berpakaian compang camping dengan mengenakan handuk kcil dilehernya, lalu tukang siomay itu diciumi kening dan pipinya oleh gurunya Habib Hasan. Dan tekang siomay itu memegang jenggot gurunya, dalam hati Habib Hasan bertanya-tanya siapa dia lancang sekali tidak lama kemudian, karena Habib Hasan perutnya sakit beliau menuju belakang (kamar mandi), tidak selang lama panggilan adzan datang. Lalu Habib Hasan buru-buru menuju masjid, dan ketika sebelum sampai masjid bertemu guru beliau al Habib Abdullah bin Abdulqadir bin Ahmad Bil Faqih lalu beliau bercakap-cakap dengan Habib Hasan,
“ya Hasan kmana td ente”, dg polosnya beliau jawab
“ane ke belakang bib sakit perut”,
lalu guru bliau bilang lagi,
“coba tadi ente sabar sebentar menunggu ane,ane ajak salaman ma beliau”
Habib Hasan kaget dan berkata, “kan cuma tukang siomay ya Habib”. lalu guru beliau berkata
“enak aje ente,ente liat pake kaca mata gag.itu nabi yaallah khidir yg bertamu ama ane,klo bliau pake gamis n imamah rapih,org2 pada mau salaman”
subhanallah,ini terjadi waktu tahun 80an

Kisah Sakit Mata Imam Junaid dalam Kitab Irsyadul Ibad

Alkisah Imam Junaid al Baghdadi mengalami sakit pada kedua matanya. Setelah sekian lama mencoba pengobatan, bertemulah beliau pada seorang tabib nasrani. Tabib tersebut memeriksa dan berkata; “sakit mata ini bisa sembuh, asal tidak sampai terkena air. jadi jangan dulu membasuh matamu dengan air.”
Sampai di rumah, Imam Junaid malah menuju tempat air dan berwudlu dengan sempurna, lalu menjalankan shalat sunnah dua rakaat. Kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur untuk beristirahat.
SubhanaLlaah, ketika terbangun, matanya telah sembuh seperti sedia kala. Saat itu ada suara hatif yang membisikkan kepada imam junaid, “imam junaid sembuh karena memilih ridlo Allah dibanding matanya sendiri”
Dan ketika tabib nasrani mengerahui kabar jika Imam Junaid telah sembuh, dia pun menanyaka
n pada beliau. Sang tabib terkejut karena obat sakit mata Imam Junaid bukan menghindari air seperti sarannya tapi justru berwudlu yang artinya membasuh wajah beserta mata dengan air. Karena takjub dengan hal itu, sang tabib pun menyatakan keimanannya, berpindah ke agama Islam. kepada tabib, Imam Junaid berkata: ” penyakit ini dari Allah bukan mahluk, maka obatnya pun dariNya”
Sungguh….cerita di atas hanya salah satu dari sekian banyak bukti manfaat dari wudlu. Wudlu, jika dilakukan dengan benar dan sempurna akan membuat wajah bersinar dan menjauhkan dari berbagai sakit. Wudlu juga bisa merontokkan kotoran-kotoran yang menempel di anggota tubuh kita. Baik kotoran nyata maupun kotoran tak nyata, yaitu dosa atau perbuatan buruk yang kita lakukan dengan anggota badan kita tersebut...Berikut sebelah kiri teks ashlinya,,..
WaLlahu a’lam.

Terkisah dari Ibnu Arabi dalam Futuchat al-Makkiyah.

Hasil gambar untuk gambar sholat malam kartunTerkisah dari Ibnu Arabi dalam Futuhat al-Makkiyah. Di satu pagi, seorang santri menemui gurunya dalam keadaan pucat pasi. “Wahai Tuan Guru, semalam aku mengkhatamkan Alquran dalam shalat malamku.

Sang Guru tersenyum. “Bagus Nak. Nanti tolong hadirkan bayangan diriku di hadapanmu saat kau baca Alquran itu. Rasakanlah seolah-olah aku sedang menyimak apa yang engkau baca.”

Esok harinya, sang murid datang dan melapor pada gurunya. “Tuan Guru,”  katanya, “Semalam aku hanya sanggup menyelesaikan separuh dari Alquran itu.”

Engkau sungguh telah berbuat baik,” ujar sang guru sembari menepuk pundaknya. “Nanti malam lakukan lagi dan kali ini hadirkan wajah para shahabat Nabi yang telah mendengar Alquran itu langsung dari Rasulullah. Bayangkanlah baik-baik bahwa mereka sedang mendengarkan dan memeriksa bacaanmu.”

Pagi-pagi buta, sang murid kembali menghadap dan mengadu. “Duh Guru,” keluhnya, “Semalam bahkan hanya sepertiga Alquran yang dapat aku lafalkan.

Alhamdulillah, engkau telah berbuat baik,” kata sang guru mengelus kepala si santri. “Nanti malam bacalah Alquran dengan lebih baik lagi, sebab yang akan hadir di hadapanmu untuk menyimak adalah Rasulullah Saw sendiri. Orang yang kepadanya Alquran diturunkan.''

Seusai shalat Shubuh, sang guru bertanya, “Bagaimana shalatmu semalam?” “Aku hanya mampu membaca satu juz, Guru,” kata si santri sambil mendesah, “Itu pun dengan susah payah.”

Masya Allah,” kata sang guru sambil memeluk sang santri dengan bangga. “Teruskan kebaikan itu, Nak. Dan nanti malam tolong hadirkan Allah di hadapanmu. Sungguh, selama ini pun sebenarnya Allah-lah  yang mendengarkan bacaanmu. Allah yang telah menurunkan Alquran. Dia selalu hadir di dekatmu. Jikapun engkau tidak melihat-Nya, Dia pasti melihatmu. Ingat baik-baik. Hadirkan Allah, karena Dia mendengar dan menjawab apa yang engkau baca.”

Keesokan harinya, ternyata santri itu jatuh sakit. Sang Guru pun datang menjenguknya. “Ada apa denganmu?” tanya Sang Guru.
Sang santri berlinang air mata. “Demi Allah, wahai Tuan Guru,” ujarnya, “Semalam aku tak mampu menyelesaikan bacaanku. Hatta, Cuma al-Fatihah pun tak sanggup aku menamatkannya. Ketika sampai pada ayat, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin” lidahku kelu. Aku merasa aku sedang berdusta. Di mulut aku ucapkan “Kepada-Mu ya Allah, aku menyembah” tapi jauh di dalam hatiku aku tahu, aku sering memperhatikan yang selain Dia. Ayat itu tak mau keluar dari lisanku. Aku menangis dan tetap saja tak mampu menyelesaikannya.”

Nak...,” kata sang guru sambil berlinang air mata, “Mulai hari ini engkaulah guruku. Dan sungguh aku ini muridmu. Ajarkan padaku apa yang telah kau peroleh. Sebab meski aku membimbingmu di jalan itu, aku sendiri belum pernah sampai pada puncak pemahaman yang kau dapat di hari ini.

Ikhwah, para pecinta sejati tentu akan saling membimbing diri untuk bersama mendekat kepada Rabbnya. Mereka tidak akan canggung berbagi peran. Untuk belajar merasakan. Wallahu A’lam.

Seputar Sholat Lupa Wudhu

Hasil gambar untuk gambar kartun sholatAsalamualaikum..
Ustad ada pertanyaan : ada seorang imam yg jd imam salat isya, tapi setelah salat ia baru ingat kalo dia belum berwudhu bagaimanakah salatnya makmumnya?
Dan minta takbirnya
Jawab:
Tidak wajib mengulang. Berikut Ta'birnya
لاَ إِنْ بَانَ ذَا حَدَثٍ وَلَوْ حَدَثًا أَكْبَرَ وَذَا نَجَاسَةٍ خَفِيَّةٍ فِيْ ثَوْبِهِ أَوْ بَدَنِهِ فَلاَ تَجِبُ اْلإِعَادَةُ عَلَى الْمُقْتَدِيْ لانْتِفَاءِ التَّقْصِيْرِ
مِنْهُ فِىْ ذَالِكَ [فتح الوهاب

1/63]

DR Amir Faishol Fath: (Seputar Bi'ah)

Hasil gambar untuk gambar ust faisholDR Amir Faishol Fath: 'Setiap yang Khilafiyah tidak termasuk Bid'ah'
Khilaf dan ikhtilaf secara harfiah (literally) berarti perbedaan, perselisihan, dan pertentangan Khilafiyah berarti masalah-masalah fiqh (bukan aqidah) yang diperselisihkan, dipertentangkan, diperdebatkan status hukumnya di kalangan ulama atau fuqaha‘ akibat dari pemahaman dan penafsiran mereka terhadap nash yang masih zhanni dilalah-nya maupun hasil ijtihad dalam masalah-masalah yang belum ditunjuki nash secara langsung.
Masalah khilafiyah sudah ada dan muncul di zaman sahabat, jadi bukan masalah baru dan aneh. Khilafiah itu dalam perkembangannya semakin banyak dan meluas di kalangan umat Islam pada masa-masa berikutnya hingga zaman sekarang.
Contoh masalah Khilafiyah: Qunut Shubuh, jumlah rakaat sholat Tarawih, Tahlilan, perayaan Maulid Nabi, dll. Khilafiyah adalah masalah-masalah cabang, bukan pada prinsip-prinsip Islam (Aqidah).
Mensikapi masalah khilafiyah, Ustadz DR Amir Faishol Fath pakar tafsir Al-Quran, menyatakan agar Umat jangan disibukkan dengan pertengkaran dalam soal khilafiyah. DR Amir Faishol Fath juga menegaskan jangan menuduh bid'ah dalam soal khilafiyah.
"Islam agama peradaban maka jangan sempitkan dengan cara pandanga pasrsial sehingga sibuk bertengkar dalam masalah khilafiyah," ujar dosen UIN Syarif Hidayatulah ini melalui akun twitternya @amirfath.
"Orang yg menyempitkan Islam kpd maslah khilafiah ia zhalim kpd Islam.Sebab telah membuat Islam menjadi agama yg sempit dan kaku,"
Ulama besar Islam masa kini, Syeikh DR Yusuf Al-Qardhawy juga menegaskan satu prinsip: 'Saling bekerjasama dalam hal yang disepakati dan saling memaafkan (toleran) dalam hal yang diperselisihkan (khilafiyah).
Semoga kita semua saling menghargai dalam perbedaan.
والله سبحانه وتعالى اعلم...